Para pekerja dan profesional di berbagai industry, belakangan ini makin merasakan membuat batasan diri agar kehidupan pribadi dan kantor tidak tumpang tindih. Tidak hanya terjadi di Ibu Kota seperti Jakarta, fenomena quiet quitting bahkan sudah mewabah di berbagai kota besar lainnya seperti Surabaya, Makasar, Medan, Semarang, Balikpapan dan sejumlah kota industry lainnya.
Adanya fenomena quiet quitting sejatinya merupakan manifestasi dari gempuran dan kemajuan zaman yang kian tak terelakan. Teknologi dan penetrasi pengguna internet, merupakan salah satu pemicu dan katalisator, yang menyebabkan fenomena guiet quitting makin menggejala bagi kalangan pekerja di kota-kota besar. Lalu apa sebenarnya quiet quiting itu?
Menurut Cam Caldwell dari Alabama A & M University, USA feomena quiet quitting merupakan gunung es yang makin besar jika digali lebih dalam. Quiet Quitting merupakan upaya untuk membatasi diri dalam bekerja, dan hanya didasarkan pada tugas-tugas sesuai standard yang telah ditetapkan sesuai perannya di perusahaan. Tindakan quiet quitting ini diakui oleh para pekerja kantor terutama anak muda pada Generasi milenial dan Generasi Z sebagai upaya untuk menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi atau ranah personal. Menariknya, tindakan quiet quitting ini justru menjadi dilemma bagi manajemen perusahaan karena justru akan berdampak pada lambatnya penyelesaian target-target pekerjaan yang harus dicapai.
Dalam beberapa kasus, bahkan di era ketidakpastian saat ini, pekerjaan justru kadang harus berubah pada menit terakhir, sebelum keputusan final ditetapkan. Alih-alih mengerjakan apa yang diperintahkan oleh manajemen puncak, para pekerja golongan muda justru merasa mereka telah bekerja sesuai dengan job description atau pun tugas pokok fungsinya. Situasi ini justru memantik keadaan di perusahaan makin tidak kondusif, sehingga berdampak pada konflik di organisasi. Konflik ini bisa terjadi antar department, atar unit kerja atau pun antar pribadi karena keengganan melakukan pekerjaan yang sifatnya tambahan ataupun incidental.
Pro Kontra Quiet Quitting Bagi Karir
Di tengah jumlah pengangguran yang kian meresahkan, aksi quiet quitting sebenarnya perlu dipertanyakan. Apalagi banyak orang yang masih menginginkan pekerjaan, agar dapat menyambung hidup mereka atau sekadar memenuhi kebutuhannya. Pada dasarnya quiet quitting bisa berdampak positif jika dilakukan pada kondisi yang tepat. Dampak positif tersebut adalah kehidupan yang lebih seimbang, kebebasan berkreasi dan keleluasaan untuk mencoba hal-hal baru di luar pekerjaan.
Namun, meski bisa bedampak positif, quiet quitting juga dapat memberikan akibat negatif yang tak kalah fatal. Tindakan menghindari komunikasi di luar jam kantor sebagai konsekuensi tindakan quiet quitting justru hanya akan membuat atasan marah dan tidak bercaya dengan Anda. Belum lagi batasan yang terlalu kaku antara pekerjaan dan kehidupan pribadi justru hanya akan menyulitkan karena itu berarti Anda adalah pribadi yang tidak adaptif. Tentu saja tindakan ini hanya akan menghambat karir Anda ke depan karena Anda kurang kooperatif dan terkesan self center atau egois. Alih-alih punya karir cemerlang, yang terjadi justru tiba-tiba Anda dapat email Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) karena arogansi diri yang berlebihan.
Terlepas pro dan kontra mengenai fenomena quiet quitting dalam pekerjaan, bekerja secara profesional adalah kunci bagi Anda agar dapat membina karir lebih cemerlang. Tak hanya itu, keleluasaan menerima pekerjaan dan tugas justru merupakan job enrichment atau pengayaan pekerjaan yang sesungguhnya dapat meningkatkan kompetensi Anda. Jadi apakah Anda terus-menerus melakukan quiet quitting? Semua terserah Anda. (Has/Alex)
