Anak yang lahir dari keluarga bermasalah biasanya akan cenderung kurang stabil secara emosi. Kondisi ini disebabkan oleh faktor lingkungan keluarga, sebagai support system yang diharapkan mampu membangun karakter dan kepribadian yang Tangguh, justru malah menyebabkan beberapa kejadian yang menimbulkan trauma. Kondisi inilah yang diyakini bisa menyebabkan terjadinya gangguan trauma atau trauma disorder.

Dilansir dari American Psychology Association, hampir 60 persen orang-orang di Amerika ditemukan mengalami trauma, dalam sepanjang hidupnya. Kondisi ini tentu saja sangat memprihatinkan karena, mayoritas orang justru merasakan pernah mengalami kejadian yang kurang menyenangkan atau bahkan kejadian buruk.

Berbagai peristiwa buruk konon menjadi salah satu pemicu utama bagi seseorang mengalamu gangguan mental trauma disorder. Apalagi jika itu dialami pada usia anak-anak atau remaja, maka dapat dipastikan akan berdampak di kehidupan pada masa yang akan datang. Baik pada masa remaja, maupun di masa dewasa.

Trauma disorder pada dasarnya disebabkan oleh berbagai kejadian dan peristiwa dalam hidup yang menimbulkan rasa tidak nyaman, luka bathin yang mendalam, dan terus menghantui pikiran dan jiwa penderitanya. Penyebab trauma disorder dapat dikelompokan menjadi beberapa sebab. Salah satu sebab ada yang berasal dari faktor sosial seperti pola asuh orangtua, kekerasan dalam rumah tangga, dan bullying.

Sedangkan faktor pemicu lainnya seperti peperangan antar suku, korban bencana alam yang dasyat, perang antar negara yang menyebabkan kematian, perkosaan dan kekerasan fisik lainnya juga merupakan faktor penting terjadinya trauma disorder.

Gejala yang sering dapat diamati pada penderita trauma disorder adalah sering mengalami mimpi buruk, kualitas tidur yang rendah, gangguan mood secara cepat, kesulitan konsentrasi, gangguan pikiran, perilaku emosi meledak-ledak dan kadang cenderung agresif.

Sementara itu, trauma disorder yang berkepanjang dikhawatirkan dapat mengganggu kehidupan penderitanya, sehingga berakibat pada seluruh aktivitasnya. Tak jarang, orang-orang pendierita trauma disorder ini, melakukan percobaan bunuh diri karena sudah merasa tidak sanggup mengatasi masalahnya.

Oleh sebab itu, penanganan penderita trauma disorder ini, hendaknya dilakukan secara holistic. Hal senada juga diungkapkan oleh Jean Cook, PhD yang menyebutkan bahwasanya penanganan terhadap para penderita post trauma disorder harus dilakukan oleh orang yang kompeten dan memiliki pengalaman di bidang tersebut.

Pentingnya Dukungan Keluarga

Jika Anda atau orang terdekat mengalami gangguan trauma disorder yang berkaitan dengan hal-hal psikis, emosional dan sosial maka sebaiknya diberikan dukungan secara penuh. Alih-alih menjauhkannya, tindakan ini justru menyebabkan penderita gangguan trauma disorder akan semakin parah dan menarik diri.

Keluarga sebagai sub sistem utama, memiliki peran strategis dalam mendukung proses pemulihan kejiwaan pada penderita post trauma disorder. Bentuk dukungan yang dapat dilakukan oleh keluarga adalah melakukan konsultasi secara rutin kepada psikiater dan psikolog untuk diberikan pengobatan secara medis dan psikologis.

Pemberian obat-obatan antidepresi menjadi salah satu intervensi yang dapat menjaga kestabilan emosi penderita. Sedangkan terapi kognitif dan terapi paparan biasanya dapat diberikan kepada penderita, sehingga pendeita gangguan trauma disorder, perlahan-lahan mampu menghadapi dan melalui peristiwa traumatis tersebut. (has/ayu)

By Editor

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *