Depresi Pada Kaum Remaja di IndonesiaDepresi pada remaja di Indonesia belakangan semakin meningkat dan mengkhawatirkan.

Masuknya arus budaya yang kian tak terbendung, menjadikan para remaja semakin kehilangan cara untuk menemukan jati dirinya. Gempuran budaya asing dan informasi yang tidak dibarengi dengan filter dari keluarga sebagai sub sistem inti, telah menjadikan remaja di era digital akhir-akhir semakin rapuh. Tentu saja kondisi ini justru membuat remaja rentan mengalami stres dan depresi.

Suka atau pun tidak, para orangtua akan kesulitan membendung informasi yang kian masif dari multi chanel, baik dari media elektronik seperti TV, Radio, atau online media sekalipun. Bahkan media sosial pun menjadi salah satu informasi yang menjadi andalan bagi kaum belia yang tengah mencari jati diri ini. Mirisnya, penggunaan media sosial di kalangan remaja semakin mengkhawatirkan karena banyak digunakan untuk tujuan negatif. 

Seperti dilansir dari laporan reuters terbaru tahun 2021, tingkat penetrasi internet di Indonesia kini bahkan telah mencapai lebih dari 75%. Fakta ini seolah mengisyaratkan bahwa jangkauan pengguna internet semakin meluas dan tanpa batas di negara kepulauan ini. Dalam perspektif pemerataan, situasi ini sudah barang tentu merupakan hal positif. Namun ibarat pisau bermata dua mudahnya akses internet tanpa didukung oleh aturan yang jelas justru berdampak negatif bagi para remaja. Terlebih pada usia ini, remaja cenderung permisif dan masih labil. Remaja adalah masa dimana fase perkembangan emosi, fisik dan sosial untuk mencari jati diri. Mereka cenderung mengeksplorasi banyak hal termasuk media sosial yang makin meresahkan. Tak jarang mereka membandingkan semua yang ada di media sosial dengan kehidupannya. Oleh sebab itu, tak heran jika mereka sering resah dan gelisah karena merasa insecure dengan kondisinya saat ini. Padahal kondisi sebenarnya bisa jauh sangat berbeda.

Sementara itu, para orangtua yang lahir dari generasi boomer tak jarang, kurang aware terhadap perkembangan mental dan emosional anaknya. Banyak kasus remaja ketika di rumah terlihat baik-baik saja, namun di luar justru beringas dan pembuat ulah. Tak hanya itu, para remaja juga kurang mendapatkan sokongan atau pun dukungan dari lingkungan sekitar. Adanya perilaku seperti bullying dan body shaming yang dilakukan oleh orang-orang sekitarnya, justru merupakan refleksi bahwa society atau peradaban kita belum mampu menerima perbedaan secara baik. Belum lagi stigma bahwa anak pintar harus bernilai akademik tinggi di sekolah, anak cantik harus tinggi bersih berkulit putih berambut hitam dan seterusnya adalah konsep diri yang sejatinya salah kaprah. Padahal, jika ditelisik lebih jauh kebehasilan seorang anak di kemudian hari tidak sekadar ditentukan oleh rentetan nilai akademik yang fantastis semata. 

Dalam realitasnya, kesukseskan seorang anak justru dipengaruhi oleh berbagai macam variabel yang bisa saling melengkapi. Pernahkah Anda merasakan bahwa di kantor Anda ada orang yang pada saat menempuh pendidikan biasa saja, kemudian prestasi akademiknya juga rata-rata namun pada saat meniti karir justru melesat dengan cepat. Well…benar sekali mungkin kita lupa bahwa kecerdasan sosial dan penempatan diri menjadi sangat penting, sebab bekerja, meniti karir dan berkarya juga membutuhkan interaksi yang solid. Orang-orang yang mampu menempatkan diri di berbagai kalangan justru akan lebih mampu menyongsong setiap perubahan dan dinamika yang kadang sulit diprediksi.

Kecerdasan dan Prestasi Akademik Bukan Segalanya

Anda mungkin juga pernah menyaksikan seorang anak yang sangat pintar secara akademik namun cenderung menarik diri, enggan berinteraksi dan kurang dapat bergaul dengan teman sebayanya? Sungguh fenomena yang sekarang makin sering terjadi di masyarakat perkotaan dan urban saat ini. Masa remaja merupakan bagian penting dalam fase hidup perkembangan manusia. Beberapa perubahan fisik dan mental akan semakin terasa pada fase ini.

Namun sayangnya data terbaru menyatakan bahwa 40-70% remaja usia 12-18 tahun di hampir semua negara mengalami stres dan depresi karena kekecewaan terhadap bentuk fisiknya, kondisi sosial dan kehidupan keluarga yang tidak membuat mereka bertumbuh secara emosional, sosial dan personal. Karena itu, orangtua disarankan untuk tidak membandingkan anak yang satu dengan lainnya. Bagaimana pun setiap individu adalah pribadi yang unik. Berangkat dari sejumlah fenomena dan fakta tersebut, para orangtua juga harus mulai sadar dan menciptakan lingkungan tumbuh yang kondusif. Melalui lingkungan yang kondusif, remaja akan tumbuh lebih optimal dan sesuai dengan tugas-tugas perkembangannya. Selain itu, para orangtua juga harus mampu menerapkan pola asuh yang relevan dengan zaman, sehingga sang anak akhirnya tidak resisten terhadap orangtua. (has)

By Editor

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *