Phobia sesungguhnya merupakan gangguan kecemasan yang tidak dapat dianggap remeh. Gangguan kecemasan ini bahkan sering berdampak sangat signifikan pada kehidupan dan keseharian seseorang saat menjalani seluruh aktivitasnya.
Menurut American Psychological Association phobia pada dasarnya dapat timbul dan dimanifestasikan dalam beberapa hal. Beberapa jenis phobia misalnya takut terhadap ketinggian, rasa cemas saat berada di suatu tempat tertentu, atau bahkan ketakutan saat melihat hewan tertentu seperti kecoak, tikus, ular dan jenis hewan tertentu lainnya. Phobia pada sebagian orang akan sangat mengganggu, terlebih jika pencetusnya muncul secara mendadak. Perasaan cemas, keluar keringat dingin, lari tak tentu arah, kepala tiba-tiba terasa berat dan sesak nafas, jantung berdetak lebih kencang, serta rasa mual di perut hanyalah sebagian kecil manifestasi dari seseorang yang secara mendadak memberikan respon terhadap faktor pencetus phobia.
Seperti dilansir dari mayoclinic.org gangguan phobia disebabkan oleh beberapa faktor misalnya faktor genetik dan pola asuh dari orangtua yang tanpa sadar sering menularkan kecemasan berlebihan pada anak. Tak jarang para orangtua menampakan kecemasan berlebihan pada anaknya terhadap hal-hal kecil, tentu saja hal ini akan berpengaruh pada pembentukan kepribadian anak di kemudian hari. Menjadi individu yang mudah cemas, khawatir terhadap hal sepele dan tidak mampu meregulasi emosi, hanyalah sebagian perilaku yang dapat muncul pada anak yang dibesarkan oleh orangtua yang sering menampakkan kecemasan berlebihan pada kesehariannya.
Sementara itu, pengalaman traumatis yang sangat membekas pada pikiran dan ingatan seseorang bisa menjadi salah satu penyebab makin parahnya kondisi phobia pada seseorang. Beberapa peristiwa seperti kekerasan masa kecil, bullying, dan intimidasi dari orang terdekat atau pun orang di lingkungan sekitar juga menjadi faktor pemicu terjadinya phobia yang semakin akut.
Lalu bagaimana kondisi phobia saat ini? Menurut Jefferies Philips dan Sarah Lincoln dari Harvard University, berdasarkan hasil riset yang dilakukan pada sejumlah negara yaitu Brasil, China, Indonesia, Rusia, Thailand, AS, dan Vietnam angka prevalensi penderita gangguan phobia memiliki kecenderungan meningkat. Bahkan dari hasil risetnya, satu dari tiga orang di negara tersebut berpotensi mengalami phobia yang disebabkan oleh lingkungan sosial.
Berdasarkan klasifikasi usia, ditemukan bahwa seseorang pada kelompok usia 18-24 atau remaja lebih rentan mengalami phobia jika dibandingkan dengan kelompok usia yang lebih dewasa. Kondisi ini disebabkan oleh faktor pembentukan kepribadian yang relatif belum sempurna, serta kematangan emosional yang belum terbentuk dengan cukup baik.
Penanganan Phobia
Gangguan kecemasan karena phobia sebenarnya bisa diatasi sejak dini jika yang bersangkutan membuka diri. Cara yang ditempuh untuk mengatasi dan mengobati gangguan kecemasan akibat phobia dapat dilakukan secara medis maupun psikoterapi. Cara medis dapat dilakukan dengan pemberian obat-obatan yang dapat menekan rasa takut dan menenangkan pikiran atau pun perasaan. Tentu saja pemberian obat harus melalui dokter ahli dan resep yang diberikan haruslah tepat sesuai gejala yang dialami pasien phobia.
Sedangkan penanganan phobia melalui terapi dapat dilakukan melalui berbagai tahapan. Masing-masing jenis phobia memiliki bentuk terapi yang berbeda, dan disesuaikan dengan tingkat keparahannya. Salah satu terapi yang disarankan adalah melalui Cognitive behavioral theraphy (CBT). Pada terapi ini akan dilakukan dengan menggabungkan terapi eksposure dengan jenis terapi lain. Adapun tujuan dari terapi ini adalah untuk membantu penderita phobia mengatasi rasa takut terhadap objek atau situasi tertentu. Terapi ini lebih ditekankan pada bagaimana cara mengontrol pikiran dan perasaan. Tak hanya itu, proses terapi biasanya juga tidak cukup dilakukan sekali konsultasi karena prosesnya harus dilakukan secara bertahap dan berkesinambungan agar phobia tersebut dapat diatasi. (has/ayu)
