Jakarta – kesehatanmental.info – Apakah kamu pernah merasa tidak nyaman jika jika harus terus-menerus memperlakukan orang terdekatmu secara berlebihan dan memanjakannya? Tak hanya itu, perilaku temanmu ini justru telah menyusahkanmu karena ingin diperlakukan secara special terus. Nah bisa jadi ini adalah princes syndrome.
Princess Syndrome adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan seseorang, terutama wanita, yang memiliki perilaku seperti “putri” dalam arti negatif. Orang dengan sindrom ini seringkali memiliki kecenderungan merasa dirinya sangat istimewa, mengharapkan perlakuan spesial dari orang lain, dan sering kali egois. Meskipun istilah ini sering digunakan secara longgar dan tidak diakui secara medis, dampak dari perilaku yang berkaitan dengan Princess Syndrome bisa nyata dan memengaruhi orang-orang di sekitarnya, termasuk keluarga, teman, dan rekan kerja. Sementara itu, menurut Shanahan dari The University of Zurich, orangtua yang terlalu mengontrol dan memanjakan anak justru memperburuk mental dan kepribadian anak. Termasuk juga terjadinya princes syndrome ini.
Penderita Princess Syndrome sering kali sulit berempati, menuntut perhatian berlebih, dan merasa berhak mendapatkan perlakuan istimewa tanpa memberikan timbal balik yang sesuai. Sikap ini tidak hanya memengaruhi kesejahteraan emosional si penderita, tetapi juga berdampak negatif pada hubungan sosial dan psikologis orang-orang terdekat. Inilah enam dampak dari princes syndrome:
Meningkatnya Stres pada Orang Terdekat
Salah satu dampak utama yang dirasakan oleh orang-orang di sekitar penderita Princess Syndrome adalah meningkatnya tingkat stres. Orang yang harus berinteraksi secara teratur dengan individu yang memiliki sindrom ini sering kali merasa kelelahan secara emosional. Hal ini disebabkan oleh tingginya tuntutan dan ekspektasi dari si penderita. Mereka cenderung selalu ingin menjadi pusat perhatian dan mendapatkan perlakuan khusus, yang jika tidak terpenuhi, bisa menyebabkan kemarahan atau sikap defensif.
Misalnya, jika seorang teman atau anggota keluarga tidak memberikan perhatian yang diharapkan, penderita Princess Syndrome mungkin bereaksi secara berlebihan, bahkan sampai merusak hubungan. Akibatnya, orang-orang terdekatnya merasa tertekan karena selalu harus berusaha memenuhi harapan yang sering kali tidak realistis. Ketidakmampuan untuk menyenangkan si penderita dapat menyebabkan perasaan frustrasi, cemas, dan kewalahan pada orang-orang di sekitarnya.
Ketidakseimbangan dalam Hubungan
Penderita Princess Syndrome cenderung memusatkan perhatian pada kebutuhan mereka sendiri, sering kali mengabaikan kebutuhan orang lain. Mereka sering merasa berhak mendapatkan perlakuan khusus tanpa mempertimbangkan timbal balik yang seimbang dalam hubungan. Ini menyebabkan ketidakseimbangan dalam dinamika hubungan antara penderita dan orang-orang di sekitarnya.
Dalam hubungan pertemanan, misalnya, penderita mungkin selalu meminta bantuan, perhatian, atau dukungan emosional dari teman-temannya, namun enggan memberikan hal yang sama ketika temannya membutuhkannya. Di lingkungan kerja, mereka mungkin mengharapkan perlakuan istimewa dari rekan kerja atau atasan, tetapi enggan bekerja keras atau berkontribusi setara dengan orang lain.
Ketidakseimbangan ini lama-kelamaan dapat menyebabkan hubungan yang tidak sehat, di mana satu pihak selalu menjadi pihak yang “memberi” dan yang lain “menerima.” Orang yang merasa dieksploitasi dalam hubungan seperti ini mungkin akhirnya menjauh atau mengakhiri hubungan sama sekali, yang pada gilirannya merugikan si penderita Princess Syndrome sendiri.
Menguras Emosi Orang-Orang di Sekitar
Sifat egois dan manja penderita Princess Syndrome dapat sangat menguras emosi bagi orang-orang di sekitarnya. Mereka cenderung menuntut perhatian dan pengakuan yang berlebihan, tanpa menghargai perasaan atau batasan orang lain. Sikap ini dapat menyebabkan ketegangan emosional yang signifikan, terutama bagi keluarga dekat atau pasangan.
Dalam konteks keluarga, orang tua atau saudara kandung mungkin merasa terbebani oleh perilaku si penderita yang selalu menuntut. Misalnya, penderita mungkin selalu menginginkan barang-barang mewah atau perhatian eksklusif dari orang tua, tanpa mempertimbangkan keadaan keluarga secara keseluruhan. Ketika tuntutan ini tidak dipenuhi, mereka bisa menunjukkan sikap marah atau manipulatif, yang hanya menambah tekanan bagi keluarga.
Di lingkungan pertemanan, seorang teman yang menderita Princess Syndrome mungkin sering kali membutuhkan validasi konstan atau pujian. Jika orang lain tidak memberikan apa yang mereka harapkan, mereka bisa merasa diabaikan atau bahkan merasa dikhianati. Situasi ini bisa menyebabkan teman-teman mereka merasa terkuras secara emosional, karena harus terus-menerus memberikan dukungan emosional tanpa mendapatkan hal serupa sebagai balasannya.
Isolasi Sosial Penderita
Salah satu dampak jangka panjang dari Princess Syndrome adalah isolasi sosial yang dialami oleh si penderita. Meskipun awalnya orang-orang di sekitar mereka mungkin mencoba memenuhi kebutuhan dan harapannya, pada akhirnya, perilaku yang egois dan manipulatif ini akan membuat orang-orang tersebut menjauh. Teman-teman dan keluarga bisa lelah berurusan dengan tuntutan yang tidak pernah berhenti, dan akhirnya memutuskan untuk menjaga jarak.
Ketika penderita merasa diabaikan atau ditinggalkan, mereka mungkin tidak menyadari bahwa hal itu disebabkan oleh perilaku mereka sendiri. Sebaliknya, mereka mungkin menganggap orang lain sebagai masalah, tanpa mengakui bahwa sikap mereka yang terlalu menuntut adalah penyebab utama dari isolasi sosial yang mereka alami. Pada akhirnya, mereka bisa terjebak dalam lingkaran setan, di mana semakin mereka merasa diabaikan, semakin besar tuntutan mereka, dan semakin banyak orang yang menjauh.
Merusak Kehidupan Romantis
Dalam hubungan romantis, Princess Syndrome dapat menyebabkan masalah yang signifikan. Sifat egois dan manja yang dimiliki oleh penderita bisa membuat hubungan menjadi tidak seimbang dan tidak sehat. Mereka mungkin mengharapkan pasangan mereka untuk selalu memperlakukan mereka seperti seorang putri—memberikan perhatian, hadiah, dan kasih sayang secara terus-menerus—tanpa memberikan hal yang sama kepada pasangan mereka.
Dalam jangka panjang, pasangan mungkin merasa lelah dan tidak dihargai. Ketidakmampuan penderita untuk mengkompromikan keinginan dan kebutuhan mereka dengan pasangan bisa menyebabkan ketegangan yang serius. Hubungan yang seharusnya didasarkan pada saling pengertian dan dukungan bisa berubah menjadi hubungan yang penuh tuntutan sepihak.
Banyak pasangan akhirnya merasa kewalahan dan mencari jalan keluar dari hubungan tersebut, karena merasa tidak mungkin untuk terus memenuhi ekspektasi yang tidak realistis dari pasangan mereka yang memiliki Princess Syndrome. Pada akhirnya, hubungan yang awalnya penuh cinta bisa hancur karena ketidakseimbangan dalam memberi dan menerima.
Menurunkan Rasa Empati pada Orang Terdekat
Penderita Princess Syndrome cenderung fokus pada diri mereka sendiri, yang sering kali membuat mereka kesulitan untuk memahami atau merasakan perasaan orang lain. Kurangnya empati ini dapat merusak hubungan interpersonal, karena orang-orang terdekatnya mungkin merasa tidak didengar atau dihargai.
Dalam situasi ini, penderita mungkin tidak menyadari bahwa tindakan atau perkataan mereka menyakiti orang lain. Kurangnya kemampuan untuk menempatkan diri pada posisi orang lain ini sering kali membuat orang-orang di sekitar mereka merasa tidak diperhatikan dan tidak dihargai. Seiring waktu, ini dapat menyebabkan ketegangan dan bahkan perpecahan dalam hubungan yang sebelumnya harmonis.
Penderita Princess Syndrome mungkin tidak sepenuhnya menyadari dampak negatif yang mereka timbulkan terhadap orang-orang di sekitar mereka. Sikap egois, selalu ingin menjadi pusat perhatian, dan perilaku manipulatif dapat merusak hubungan, baik itu dalam keluarga, pertemanan, maupun hubungan romantis. Orang-orang terdekat dari penderita sering kali merasa stres, kewalahan, dan emosional terkuras akibat tuntutan yang tidak realistis.
Untuk mengatasi masalah ini, penting bagi penderita Princess Syndrome untuk mulai menyadari perilakunya dan belajar mengembangkan empati serta kemampuan untuk memberi dan menerima dalam hubungan yang sehat. Dengan demikian, hubungan dengan orang-orang terdekat bisa menjadi lebih seimbang, harmonis, dan tahan lama. (*)