Gejala Anak Autis

Data terbaru tahun 2021 dari World Health Organizationn(WHO) menyatakan bahwa 1 dari 270 anak di dunia terdiagnosis Autism Spectrum Disorder (ASD). Bahkan belakangan jumlah penderita autis menunjukkan kecenderungan meningkat cukup signifikan di Indonesia. Diperkirakan kurang lebih 500 kasus per tahun penambahan jumlah anak dengan Autism Spectrum Disorder.

Dilansir dari National Institute of Health Care and Excellence serta Whitehouse A.A National Guideline for the Assessment and Diagnosis of Autism Spectrum Disorders in Australia, Autism Spectrum Disorder (ASD) atau Gangguan Spektrum Autisme, adalah istilah bagi sekumpulan kelainan tumbuh kembang yang ditandai oleh defisit komunikasi dan interaksi sosial yang persisten, serta pola perilaku repetitif dan minat yang terbatas.

Hingga saat ini penyebab dasar dari Autism Spectrum Disorder (ASD) itu sendiri masih belum diketahui secara pasti. Namun para peneliti menyimpulkan adanya kerusakan pada otak anak dengan autisme atau gangguan neurobiologis serta peran faktor genetik (faktor turun menurun dalam keluarga).  Selain itu, terdapat berbagai faktor risiko yang mungkin berperan dalam meningkatkan peluang munculnya ASD ini seperti; prematuritas, hipoksia perinatal (bayi tidak mendapatkan pasokan oksigen yang cukup sebelum, selama atau setelah dilahirkan), infeksi maternal, defisiensi vitamin D saat kehamilan dan paparan sejumlah obat tertentu selama kehamilan. Bahkan riwayat bayi lahir dengan berat sangat rendah atau memiliki penyakit bawaan yang tidak segera ditangani, serta masalah kesehatan ibu saat kehamilan misalnya diabetes dan obesitas, juga dapat menjadi penyebab terjadinya autisme.

Gejala ausitme sesungguhnya cukup beragam. Beberapa gejala yang dapat diamati adalah pada saat bayi tidak mampu menggumam, tidak merespon saat namanya dipanggil, menghindari kontak mata, mengalami keterlambatan berbicara dan kesulitan menjaga pembicaraan dengan orang lain. Dalam sejumlah kasus bayi juga sering mengulang frase tertentu, kesulitan memahami perasaan orang lain, tidak bisa mengekspresikan perasaannya sendiri serta memiliki ketertarikan yang berlebihan terhadap topik tertentu. Tak jarang anak-anak dengan autisme akan mudah marah, stres, atau sedih ketika dihadapkan dengan kegiatan yang membuatnya kewalahan.

Orangtua hendaknya menyadari gejala-gejala autisme pada anak sejak awal masa perkembangannya. Selain itu, jangan ragu untuk segera melakukan penanganan dini untuk mengurangi kesulitan berkomunikasi pada anak autisme. Memiliki anak, saudara, kerabat, atau teman yang mengidap autisme, tidak serta merta menjadikan kita harus kehilangan rasa percaya diri ataupun malu terhadap lingkungan sekitar. Berbagai kajian dan penelitian psikologi perkembangan menyatakan bahwa sekitar 1 sampai 10 anak dengan autisme memperlihatkan adanya sindrom savant yang luar biasa. Sindrom ini memungkinkan seseorang memperlihatkan kemampuan luar biasa atau kecerdasan sangat menonjol pada bidang tertentu. Beberapa contoh kemampuan yang menonjol dan dimiliki oleh anak austisme misalnya, memainkan musik dengan sempurna, menyelesaikan soal matematika yang kompleks, dan mencapai nilai akademis yang sempurna. (hs/ay)

By Editor

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *