Disleksia adalah gangguan dalam proses belajar yang ditandai dengan kesulitan membaca, menulis, atau mengeja. Penderita disleksia akan kesulitan dalam mengidentifikasi kata-kata yang diucapkan, dan mengubahnya menjadi huruf atau kalimat. Gangguan disleksia ini biasanya akan muncul saat anak sudah mulai pada masa awal pertumbuhan. Terutama pada usia menjelang 1-2 tahun. Seiring pertambahan usianya, disleksia akan semakin terasa pada anak dan dapat semakin terlihat pada kemampuan verbalnya. Bahkan jika tidak dideteksi sejak dini dapat berlanjut hingga dewasa.
Seperti dilansir dari American Association Psychology, beberapa penyebab yang dapat ditelusuri dari gangguan disleksia pada anak adalah, terjadinya kelahiran premature dengan berat badan di bawah normal. Kondisi ini berdampak pada kemampuan fisik terutama kemampuan pemusatan pada kognitifnya. Beberapa anak yang mengalami fase tumbuh kembang yang tidak runut seperti tengkurep, duduk dan langsung berdiri, bahkan pernah jatuh mengenai organ kepalanya konon juga dapat dikaitkan dengan gangguan disleksia. Sementara itu, anak-anak dengan kelainan fisik seperti gangguan penglihatan, gangguan pendengaran atau anak dengan celebral palsy (c.p.) akan mengalami kesulitan belajar membaca juga merupakan salah satu penyebab terjadinya gangguan disleksia. Anak-anak yang sering pindah sekolah, memiliki potensi untuk mengalami gangguan disleksia karena perubahan lingkungan yang cepat dalam beberapa kasus akan sangat mempengaruhi daya adaptasi anak.
Menariknya, anak dengan gangguan disleksia ini dalam beberapa kasus setelah dilakukan test intelegensi justru memiliki kemampuan intelegensi normal atau bahkan di atas rata-rata. Karena itu, para orangtua harus mulai menyadari bahwa kemampuan anak-anak dengan gangguan disleksia harus mendapatkan penanganan khusus. Nah berikut ini adalah tips untuk membantu anak-anak dengan gangguan disleksia:
- Bacakan buku untuk anak-anak. Waktu yang paling baik untuk membacakan buku adalah saat anak berusia 6 bulan, atau bahkan lebih muda. Saat anak sudah berusia lebih besar, cobalah membaca bersama-sama dengan anak.
- Bekerja sama dengan sekolah anak. Bicarakan kondisi anak dengan guru atau kepala sekolah, dan diskusikan cara yang paling tepat untuk membantu anak supaya berhasil dalam pelajaran.
- Perbanyak waktu membaca di rumah. Kita mungkin bosan membacakan cerita yang sama dan berulang-ulang pada anak, namun pengulangan ini akan semakin meningkatkan kemampuan anak untuk memahami cerita sehingga mereka menjadi tidak begitu asing lagi dengan tulisan dan cerita. Berikan juga waktu untuk anak membaca sendiri tanpa bantuan.
- Buatlah membaca menjadi suatu kegiatan yang menyenangkan. Kita dapat memilih topik bacaan ringan yang menyenangkan, atau suasana membaca di tempat lain misalnya di taman.
Para orangtua hendaknya mulai sadar bahwa anak dengan gangguan disleksia bukanlah anak yang bodoh dan tidak termasuk dalam klasifikasi retardasi mental. Karenanya, berusaha memberikan bimbingan dan arahan sejak dini adalah tindakan bijaksana agar tidak berpengaruh kepada kemampuan mental, emosional dan psikososialnya di masa yang akan datang. Dan tentu saja demi masa depan terbaik sang buah hati kita.
