Intelegensi dan Faktor LingkunganGenetik dan Lingkungan Mempengaruhi Intelegensi

Para orangtua kini makin dihadapkan pada kompleksitas peradaban. Terlebih jika dikaitkan dengan tatangan zaman di era digital 4.0 saat ini, semua begitu mudah didapatkan hanya dengan berbekal telpon pintar. Kondisi ini tentu saja sangatlah berpengaruh terhadap perkembangan intelegensi dan tingkat kecerdasan anak. Meskipun hingga saat ini masih terjadi perdebatan mengenai penentu intelegensi baik yang berasal faktor darigenetik atau pun faktor lingkungan.

Menurut Hans Eysenck, seorang ilmuwan psikologi aliran behavioris menyatakan bahwa, faktor penentu intelegensi individu dipengaruhi oleh dua hal yaitu faktor hereditas dan faktor lingkungan. Faktor hereditas lebih berkaitan dengan adanya faktor bawaan atau genetik yang nantinya akan diturunkan orantua kepada anak atau keluarga yang memiliki hubungan darah. Sedangkan faktor lingkungan, berkaitan dengan konstruksi sosial yang manaungi individu dari sejak lahir sampai dengan dewasa. Konstruksi sosial ini dapat berupa keluarga, masyarakat sekitar tempat tinggal, budaya bahkan faktor pendidikan.

Di era yang semakin canggih ini, sesungguhnya intelegensi bukanlah satu kunci utama yang mampu menjadi faktor penentu keberhsilan seseorang. Namun, suka atau pun tidak, intelegensi merupakan modal awal seseorang dalam melalui tumbuh kembangnya, sesuai dengan tugas perkembangan usianya. Howard Gardner, PhD pakar psikologi dari negara paman sam, Amerika Serikat menemukan bahwa kurang lebih terdapat sembilan komponen kecerdasan individu, yang dapat menunjang kehidupannya. Kecerdasan tersebut terdiri dari kecerdasan musikal, naturalis, linguistik, interpersonal, intrapersonal, visual spasial, logika matematika, kinestetik, dan kecerdasan moral.

Masih menurut Gardner, Profesor Psikologi dari Harvard University, pada dasarnya seorang anak memiliki kecerdasan masing-masing dari kesembilan komponen kecerdasan tersebut. Namun, biasanya masing-masing anak memiliki kecerdasan spesifik yang menonjol seperti kecerdasan matematika atau berhitung, kecerdasan bahasa atau bahkan kemampuan interpersonal yang baik. Namun, tak jarang bisa terangkum dalam beberapa kecerdasan yang cukup menonjol dari sembilan kecerdasan tersebut. Oleh sebab itu, tidaklah adil jika menilai anak-anak yang kurang pandai berhitung lantas diberi label tidak cerdas atau bodoh. Bisa jadi anak tersebut pandai dalam hal lain seperti kecerdasan bahasa dan kecerdasan visual, sehingga dapat berprestasi di bidang yang sesuai dengan kecerdasan tersebut.

Faktor Genetik atau Lingkungan

Meskipun tidak ada jaminan bahwa anak-anak yang lahir dari keluarga cerdas akan menjadi cerdas pula, akan tetapi faktor genetik tetapkan berperan dalam proses pembentukan intelegensi. Sebuah penelitian yang dilakukan di London, menemukan bahwa anak-anak yang cerdas cenderung lahir dari keluarga kalangan atas dan berpendidikan. sementar itu, sebuah studi yang dilakukan pada tahun 1996 di Yogyakarta misalnya. Anak-anak yang cerdas dan pintar di sekolah rata-rata lahir dari orangtua dengan latar belakang pekerjaan seperti dosen atau pun guru.

Namun, pola asuh orangtua terhadap pembentukan intelegensi juga memegang peranan sangat penting dalam pembentukan intelegensi pada individu di masa usia perkembangannya. Anak-anak yang dibesarkan dengan pola asuh yang baik dan lingkungan yang mendukung seperti berpikiran terbuka, siap menerima keberagaman, budaya diskusi dan bertukar pikiran, tentu saja akan berbeda dengan anak-anak yang dibesarkan dengan cara diktator, otoriter, dan lingkungan keluarga yang tidak peduli satu dengan yang lainnya. Dalam banyak kasus, anak-anak yang diasuh dengan kekeran justru melahirkan pribadi yang agresif dan memiliki kecerdasan sosial yang rendah. Karena itu, jangan heran jika di kemudian hari sang anak akan mengalami gangguan psikososial dan penempatan diri.

Terlepas dari masalah pro dan kontra apakah faktor genetik ataupun faktor lingkungan, tugas orangtua di era digital saat ini menjadi sangat berat. Terlebih dengan paparan informasi dan teknologi yang sulit dibendung oleh siapa pun. Karenanya, memastikan anak-anak tumbuh sesuai dengan perkembangan usianya adalah tindakan bijaksana, agar dapat mendorong pertumbuhan intelegensi secara optimal. Baik intelegensi kronologis maupun intelegensi mentalnya. (has/ayu)

By Editor

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *