Gangguan ADHD Pada AnakDeteksi Dini Gangguan ADHD Pada Anak

Apakah anak Anda sering mengalami kesulitan dalam berkonsentrasi? Atau mungkin mengalami hiperaktif dan mudah sekali berganti minat tanpa alasan dan sebab yang jelas, ditambah dengan kemampuan sosialisasi yang buruk serta prestasi di sekolah yang kacau? Jika semua hal tersebut dialami oleh anak Anda, kemungkinan anak Anda mengalami gangguan pemusatan atau hiperaktif (ADHD).

Para orang tua akhir-akhir ini kurang peka dengan perkembangan psikomotorik dan penempatan diri pada anak-anaknya. Di zaman yang semakin canggih ini, masih banyak orangtua yang beranggapan bahwa kecerdasan intelegensi dan kemampuan kognitif adalah segala-galanya bagi sang buah hati. Asalkan cerdas, yang ditandai dengan nilai rapot yang istimewa sudah cukup bagi para orangtua di digital ini. Padahal kondisi ini ini tidaklah sepenuhnya benar, dan justru makin memperburuk kondisi kejiwaan sang anak. Bagaimana pun keberhasilan anak di kemudian hari tidak hanya diukur dari intelegensi dan nilai raport saja. 

Adanya fenomena orangtua yang kurang menyadari mengenai gangguan psikososial dan pemusatan diri menjadi suatu cerminan bahwa para orangtua harus lebih waspada. Banyangkan saja jika tiba-tiba sebagai orangtua Anda dipanggil ke sekolah anak Anda oleh wali kelas, lalu mendapati fakta bahwa anak Anda kurang bisa berkonsentrasi dengan suatu hal, entah itu pelajaran sekolah, aktivitas di luar kelas, diskusi kelompok atau bahkan ditemukan sering berkelahi dengan sesama teman sekolahnya. 

Kondisi tersebut diperparah dengan nilai akademik yang buruk dan kemampuan interaksi yang kurang memadai. Akibatnya, Anak anda menjadi tertutup dan tidak memiliki kemampuan untuk menjalin komunikasi secara efektif dengan teman sebayanya. Maka jangan heran jika anak-anak Anda kemudian menjadi bahan ejekan temn-temannya. Sungguh memprihatiankan bukan? Jika sebagai orangtua merasa bahwa kemampuan anak dalam memusatkan perhatian semakin memburuk, maka ada baiknya segera memeriksakan ke dokter atau ahli yang dapat menangani gangguan pemusatan diri (ADHD) tersebut. 

Pada dasarnya semua anak yang dilahirkan memiliki bakat dan kemampuan yang unik, namun karena orangtua kurang menyadari perkembangan fisik dan psikologis sang buah hati, dalam banyak kasus para orangtua menjadi abai terhadap pertumbuhan anaknya. Seperti dilansir dari apa.org (American Psychological Association) anak-anak penderita ADHD akan mengalami gejala kurang perhatian, hiperaktif dan implusif. 

Pada anak-anak kurang memiliki perhatian karena ADHD akan menunjukkan sejumlah perilaku seperti mudah bosan, sering membuat kesalahan pada hal sepele, ceroboh, pelupa dan tidak bisa melakukan tugas jika harus memakan waktu yang cukup lama. Bahkan anak-anak ini akan mengalami kesulitan untuk memahami instruksi sederhana serta tidak mampu mengatur tugas dengan baik. 

Sementara itu, beberapa gejala manifestasi hiperaktif dan impulsive dari anak penderita ADHD diantaranya adalah tidak bisa diam, sering gelisah terus-menerus, melakukan gerakan fisik yang berlebihan, tidak sabaran menunggu giliran, menggaggu percakapan orang lain bahkan tak jarang bertindak tanpa berpikir terlebih dahulu. 

Penanganan ADHD

Secara umum beberapa ahli Kesehatan anak menyatakan bahwa terdapat beberapa penyebab ADHD pada anak. Faktor resiko yang sering menjadi contributor pada terjadinya ADHD adalah faktor genetik, lingkungan serta gangguan pada gelombang otak pada anak. ADHD biasanya akan dapat dideteksi saat anak memasuki usia 3 tahun, dan akan terlihat makin terlihat menonjol indikasinya sampai dengan usia 12 tahun. 

Namun, seiring dengan berkembangnya ilmu medis dan psikologi saat ini, anak-anak penderita ADHD bisa mendapatkan penanganan lebih baik. Tentu saja harus dilakukan diagnosis dan konsultasi dengan ahlinya, sehingga penanganan yang dilakukan dapat tepat guna. Adapun metode penanganan yang dilakukan dapat melalui upaya medis dengan pengobatan atau pun melalui psikoterapi yang dilakukan secara berkelanjutan. Meskipun penderita ADHD tidak dapat disembuhkan, namun gangguan ini dapat diredakan dengan melibatkan peran orangtua, dokter ahli anak, psikolog klinis, psikiatri bahkan pihak sekolah. Paling tidak dengan peran para pihak terkait ini, anak dengan gangguan ADHD tetap dapat melanjutkan hidup dengan baik, bahkan tak jarang mereka juga bisa berprestasi. (has/ayu)

By Editor

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *