Pola Asuh Sesuai Usia & ZamanPola Asuh Sesuai Perkembangan Usia & Zaman

Sebagai individu atau pribadi tentunya kita tidak dapat memilih, apakah harus dilahirkan menjadi anak pertama, kedua atau bahkan anak terakhir. Namun, sebagai orangtua sangatlah penting mengenali karakteristik anak-anak berdasarkan urutan kelahirannya, agar dapat menerapkan pola asuh yang tepat dan relevan dengan konteks usia perkembangan dan zaman.

Adalah Alfred Adler, Ilmuwan psikologi sekaligus Bapak dari Psikologi Individual dengan latar belakang pendidikan kedokteran jiwa dan psikiatri dari Universitas Wina, yang mencetuskan konsepsi mengenai pengaruh urutan kelahiran anak terhadap karakteristik dan kepribadiannya. Meskipun pada abad 19 masih terjadi pro dan kontra, tesis dan konsepsi mengenai urutan kelahiran serta pengaruhnya pada urutan kelahiran anak, tampaknya masih cukup relevan hingga kini.

Jika ditelisik lebih jauh, menurut Adler anak pertama cenderung lebih mampu menerima beban tanggung jawab karena dipaksa oleh keadaan. Pada masa awal perkembangannya, anak pertama akan mendapatkan perhatian lebih besar dan tidak terbagi, karena orangtua masih fokus dengan satu anak. Namun seiring dengan kelahiran anak kedua, anak pertama akan mengalami krisis percaya diri karena merasa mendapatkan saingan di dalam keluarga. Jika orangtua mampu menerapkan pola asuh yang tepat, melalui penanaman tanggung jawab, kedewasaan dan toleransi, maka anak pertama akan tumbuh menjadi pribadi yang bertanggung jawab, melindungi dan merupakan organisator yang baik. Akan tetapi, pada beberapa kasus, anak pertama juga akan lebih suka mengkritik dan sangat konservatif serta kurang berani mengambil resiko dalam bertindak.

Berbeda dengan anak pertama, pada kasus anak tengah justru memiliki kepribadian yang lebih toleran karena orangtua sudah mulai mengajarkan untuk berbagi dengan saodara. Selain itu, anak tengah akan merasakan perlindungan dari sang kakak, sehingga rasa aman akan melingkupi pikirannya. Namun, dampak negatif yang sering muncul pada anak tengah atau anak kedua adalah adanya dorongan kompetitif dengan sang kakak. Tak jarang karena sering dibandingkan baik secara langsung atau pun tidak, anak tengah akan lebih kompetitif. Tentu saja karena ingin mendapatkan pengakuan dari orangtua maupun lingkungan. Jika orangtua mampu menerapkan pola asuh yang tepat, anak tengah akan lebih mudah menjadikan sang kakak sebagi role model untuk berprestasi, bertindak, dan berperilaku. Namun jika orangtua gagal menerapkan konsepsi tanggung jawab pada anak pertama, anak kedua akan lebih sulit menemukan jati dirinya.

Lalu bagaimana dengan anak bungsu? Dalam risetnya Alfred Adler menyatakan bahwa anak bungsu justru akan memiliki banyak model dari kakaknya terdahulu, sehingga pengembangan konsep diri dan kepribadian bagi anak bungsu menjadi lebih mudah. Fakta ini disebabkan oleh kualitas perhatian yang cukup besar dari orangtua dan sang kakak kepadanya. Tak jarang karena perhatian yang berlebihan ini telah menjadikan anak bungsu kurang mandiri, manja dan merasa inferior atau pun rendah diri. Tentu saja karena selalu merasa dibandingkan dengan sang kakak, baik kakak pertama atau pun kakak tengah. Lebih dari itu, anak bungsu memiliki kecenderungan untuk lebih santai karena merasa tidak ada tuntutan dari lingkungan terdekatnya seperti orangtua dan sang kakak. Pada sejumlah kasus jika anak bungsu mampu menyerap nilai-nilai dan role model dari sang kakak, ditambah dengan pola asuh yang konsisten akan melahirkan pribadi yang lebih mandiri, bahkan superior pada bidang tertentu.

Tips Pola Asuh Anak Sesuai Urutan

Untuk mendukung perkembangan kepribadian sang anak agar tetap sesuai dengan tugas perkembangan di usianya, berikut ini adalah tips pola asuh berdasarkan urutan kelahiran:

  1. Terapkan tanggung jawab pada seluruh anak, baik anak pertama, kedua, ketiga serta anak bungsu sesuai dengan porsinya.
  2. Hindari membandingkan setiap anak karena masing-masing anak memiliki bakat dan kelebihan yang dapat dioptimalkan demi masa depannya kelak.
  3. Tanamkan kemandirian sesuai dengan usianya, misalnya di usia 5 tahun harus dapat makan sendiri tanpa harus bantuan pengasuh, usia 7 tahun harus mulai dapat mengerjakan tugas sekolah, 17 tahun harus mulai mampu memilah dan memilih pergaulan dan merencanakan masa depan.
  4. Biarkan anak belajar dari kesalahan dan jangan terlalu sering memarahi karena, perilaku tersebut akan menurunkan rasa percaya diri anak sehingga mengurangi dorongan berprestasi.
  5. Lakukan komunikasi dua arah agar kita dapat mengetahui kebutuhan anak, tanpa harus memaksakan kehendak kita, karena pola parenting harus sesuai dan relevan pada setiap usia perkembangan maupun zaman.

Terlepas dari pro dan kontra mengenai konsepsi kepribadian anak berdasarkan urutan kelahiran, ada baiknya para orangtua terus belajar memahami dan relevan dengan zaman dalam menerapkan pola asuh bagi sang buah hati (has/ayu)

By Editor

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *