Pola asuh yang tidak tepat dan penuh kekerasan  tak jarang melahirkan pribadi yang agresif, Ketika sang anak tumbuh dewasa. Bayangkan saja, saat Anda sebagai orangtua tiba-tiba dibentak oleh anak sendiri karena hal yang sepele. Sedih dan khawatir tentunya. Lalu apa yang harus Anda lakukan sebagai orangtua?

Menjadi orangtua memang tidak ada rumus baku dan pasti, selain menjalaninya dengan ikhlas serta terus belajar bersama pasangan untuk memberikan pola asuh terbaik bagi sang buah hati. Terlebih di era yang serba modern dan canggih ini, para orangtua tak jarang dibuat semakin pusing dengan terpaan dan gempuran informasi yang sulit dikendalikan. Bayangkan saja, dari mulai bangun tidur sampai dengan ke peraduan untuk Kembali terlelap, semua informasi lalu Lalang melalui sejumlah media. Tayangan televisi, informasi melalui media sosial seperti youtoube, instragram, facebook dan lainnya tanpa disadari memberikan banyak pengaruh negatif bagi sang buah hati. 

Sadar atau pun tidak, terbentuknya pribadi anak yang agresif dipengaruhi oleh pola asuh orangtua dalam membesarkannya. Menurut Albert Bandura, Ilmuwan Psikologi dari Stanford University perilaku anak agresif sejatinya dipengaruhi oleh pola asuh dan lingkungan sang anak dibesarkan. Dalam konsepsinya ilmuwan yang terkenal dengan teori determinasi resiprokal ini menyebutkan bahwa anak-anak yang agresif lebih banyak menyerap informasi, dan fakta kejadian yang berkaitan dengan kekerasan di sekitarnya.

Dalam perspektif piskologi, anak-anak yang dibesarkan dengan lingkungan penuh kekerasan akan cenderung tumbuh menjadi anak yang agresif karena dia menyimpan informasi di kognitifnya, kemudian memprosesnya dan meresponnya menjadi tindakan yang reaktif agresif atau penuh kekerasan, misalnya memaki dengan kalimat kotor, membanting pintu, melakukan tindakan serangan fisik seperti menendang, meninju atau lainnya. 

Berikut ini adalah tiga hal yang seyogyanya dihindari oleh para orantua dalam membesarkan anak agar tidak menjadikan anak yang agresif di kemudian hari: 

1. Menggunakan Kata-Kata Kasar Pada Anak Saat Marah

Di tengah kondisi yang serba tidak pasti, seperti tekanan pekerjaan, tekanan ekonomi, pembelajaran online yang melelahkan, reaksi marah yang cenderung spontan tak jarang terlontar begitu saja. Bahkan tanpa kita sadari sebagai orangtua menggunakan kata-kata kasar. Beberapa ungkapan seperti “Kamu bodoh dan bebal?” “Kamu anak tidak tahu malu dan kurang ajar?” dan masih banyak ungkapan lainnya kadang spontan diungkapkan oleh orangtua di tengah emosi yang memuncak. Jika ini dilakukan sudah tentu berdampak pada kejiwaan sang buah hati. Lalu bagaimana kita meresponnya? Usahakan untuk tetap tenang meskipun emosi masih memuncak. Sebagai orangtua biarkan sang anak untuk merasakan emosinya seperti sedih, kecewa dan tidak bersemangat. Setelah kondisi membaik, lalu ajaklah berbicara dari hati ke hati secara personal dengan bahasa mereka. Bagaimana pun sangatlah penting memvalidasi emosi dan kesedihan buah hati kita. Melalui cara ini, anak-anak akan merasa aman dan nyaman karena telah mendapatkan figur yang dapat menenangkannya. 

2. Menggunakan Kekerasan Untuk Menyelesaikan Masalah 

Beberapa orangtua terkadang ingin mengambil jalan pintas untuk menyelesaikan masalah anak dengan kekerasan seperti memukul, mencubit atau bentuk kekerasan fisik lainnya. Bagaimana pun jika tindakan ini dilakukan akan sangat buruk dampaknya bagi perkembangan emosi sang buah hati. Anak-anak akan cenderung kurang cermat dalam meregulasi emosinya dan mengambil cara cepat untuk menyelesaikan masalahnya karena tanpa sadar orangtua telah mengajarkannya. Bayangkan saja misalnya saat anak Anda bermain dengan temannya kemudian mereka berebut mainan, lalu yang terjadi mereka saling pukul atau melempar batu. Nah….jika para orangtua membiarkan ini, artinya orantua tanpa sengaja menyetujui tindakannya. Lalu apa yang dilakukan? 

  • Berikan pengertian pada anak agar berusaha menyampaikan pada temannya bahwa tindakan temannya melempar batu berbahaya dan menyakitinya. 
  • Lalu biarkan sang anak merasakan sedih kecewa dan emosinya sesaat,kemudian kita sebagai orangtua berusaha menenangkan dan memberikan pengertian secara perlahan. 
  • Hindari untuk menghakimi anak dan ajarkan untuk mengungkapkan secara jujur apa yang terjadi, sehingga kelak jika terjadi hal yang sama mereka dapat mengatasinya. 

3. Membiarkan Anak Tumbuh Dalam Lingkungan Yang Buruk 

Orangtua mungkin dalam beberapa hal disibukkan oleh banyak pekerjaan, seperti mengurus rumah tangga, bekerja, bersosialisasi dan yang lainnya. Karena berbagai aktivitas ini tak jarang lupa untuk mengontrol lingkungan anak-anaknya. Lingkungan ini bisa saja teman-teman mainnya, tayangan media yang disaksikan, buku yang dibaca atau bahkan berbagai aktivitas yang memicu agresivitas lainnya. Jika ini terjadi, ada baiknya orangtua memilih dan memilah teman bermain bagi sang buah hati. Selain itu, mengamati aktivitas anak-anak baik secara langsung atau pun di sosial media juga sangat perlu karena bisa jadi upaya pencegahan. 

Nah jika tiga hal tersebut bisa dihindari maka anak-anak akan tumbuh dengan sehat secara fisik, emosional, sosial dan spiritual. Jangan sampai suatu hari nanti, anak-anak kita tumbuh dewasa menjadi pribadi yang agresif yang ujungnya akan berdampak pada tindakan kekerasan pada orang-orang di sekitarnya. (*)

By Editor

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *