Krisis Psikososial Pada RemajaGangguan Krisis Psikososial Remaja

Pencarian identitas ego akan mencapai puncaknya pada fase adolesen atau berada kisaran usia 12 -20 tahun. Karena itu, tidaklah mengherankan jika pada fase usia ini, seseorang akan terus meluapkan rasa dahaganya, agar dapat menemukan jati diri yang dikehendakinya. Beberapa pemikiran dan perilaku yang tak seharusnya pun tak jarang nekat dilakukan, demi mendapatkan pengakuan dari lingkungan. Pada fase usia ini, atau bisa disebut remaja, sesungguhnya krisis psikososial sangat rentan terjadi. 

Di tengah hiruk pikuk zaman dan distraksi informasi saat ini, tak sedikit orangtua yang abai atau lupa bahwa pengaruh lingkungan sosial sangatlah penting bagi anak yang sedang tumbuh menjadi remaja. Apalagi bagi para orangtua yang lebih banyak menghabiskan waktunya untuk bekerja atau mencari nafkah di luar rumah. Bayangkan saja jika dihitung waktu 24 jam maka kurang lebih akan menghabiskan waktu minimal 8 jam untuk bekerja, belum lagi ditambah saat perjalanan ke tempat kerja sekitar satu hingga dua jam. Cukup banyak bukan? Bisa jadi sepertiga dari waktu dari satu hari. 

Peran lingkungan sosial menjadi krusial berkaitan dengan perkembangan emosional, sosial dan mental anak remaja. Bagaimana pun keterlekatan dan interaksi menjadi sangat urgent pada masa usia remaja. Betapa tidak, pada fase ini seseorang  akan terus berusaha mencari pola dan bentuk yang pas dengan kepribadian ideal versi mereka masing-masing.

Menurut Erik Erikson, Ilmuwan Psikologi aliran psikoanalitik kontemporer, remaja akan lebih mudah menolak standard yang ditetapkan oleh orangtuanya. Hal ini disebabkan pada masa remaja, kepribadian yang melekat belumlah terbentuk secara menyeluruh. Karenanya, jangan heran jika para remaja akan lebih mudah mendengarkan masukan dan pendapat dari teman atau seseorang yang satu kelompok dengan usianya. Tak hanya itu, alasan lain yang wajib dimengerti dan dipahami oleh para orangtua adalah masa remaja merupakan masa badai yang di dalamnya sering terjadi kekacauan idientitas. Informasi, simpang siur berita, hantaman media sosial yang bombastis, tayangan media yang tidak realistis adalah segelintir penyebab yang pantas dipertimbangkan. 

Beberapa hal yang melatarbelakangi terjadinya kekacauan identitas adalah pemahaman akan konsep jati diri dan kepribadian belumlah menyeluruh pada fase ini. Sejumlah faktor penting seperti pengalaman, pengetahuan dan cara mengorganisasikan permasalahan pada kelompok ini belum terjadi secara holisik. Akibatnya, cara berpikir dan bertindak para remaja cenderung lebih reaktif dan impulsive, sehingga terkesan kurang perhitungan. 

Trauma Masa Kecil

Sementara itu, sejumlah ahli psikologi perkembangan menyatakan, munculnya gangguan psikologi berupa krisis psikososial, pada banyak kasus dapat dikarenakan terjadinya trauma. Trauma ini biasanya terjadi ketika yang bersangkutan masih usia kanak-kanak. Beberapa tindakan seperti bullying atau perundungan dari teman sebaya, kerabat dan bahkan orangtua merupakan pemicu yang cukup kuat terhadap terjadinya krisis psikososial bagi para remaja. 

Fakta lain yang pantas dicermati adalah terjadi bullying atau perundungan saat kecil menjadikan seseorang enggan berinteraksi dengan orang-orang sekitarnya. Kondisi ini menjadi semakin kompleks dan akut bila orangtua sebagai support system utama tidak mampu menemukenali yang terjadi pada anaknya hingga masa perkembangan usia remaja. Menarik diri, minder, enggan berhubungan dengan orang lain, susah mengungkapkan apa yang dirasakan dan tidak bisa menempatkan diri pada situasi yang sederhana, merupakan beberapa gejala awal yang bisa ditengarai sebagai bagian dari krisis psikososial bagi seseorang yang sedang beranjak remaja. 

Lalu bagaimana mencegah kondisi ini agar tidak semakin berlarut-larut? Cara ampuh yang dapat diterapkan adalah mengajak anak untuk bertukar pengalaman. Para orangtua hendaknya lebih sabar dan mencari tahu mengenai beberapa hal seperti kegemaran atau hobby sang buah hati, siapa teman dekatnya, bagaimana presetasi di sekolah dan memberikan pemahaman mengenai pentingnya social skill bagi anak sebagai bekal hidup di kemudian hari. Bahkan mengikutkan anak pada berbagai kegiatan sosial seperti mengunjungi panti sosial, bakti sosial ke daerah bencana, ataupun menjadi sukarelawan kegiatan sosial bisa jadi salah satu sarana untuk melatih kemampuan bersosialisasi sang anak saat menjelang masa remaja. Dengan cara ini, diharapkan pelan namun pasti anak-anak akan semakin tumbuh dan berkembang sesuai dengan usia dan kebutuhan sosialnya. (has)

By Editor

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *