Jakarta – kesehatanmental.info – Kondisi zaman yang kian cepat dan instan sedikit banyak telah mengubah perilaku seseorang dalam merepson setiap kejadian dan peristiwa dalam hidup. Tak terkecuali bagi para orangtua yang kini sedang berjibaku dalam mengurus rumah tangga maupun mendidik anak-anaknya. Belum lagi banyaknya overstimulasi dari berbagai sumber informasi, menjadikan para orangtua makin mudah cemas ketika menjalani hidup saat ini dan di masa yang akan datang.
Menariknya, banyak para orangtua justru berlomba-lomba mencari harta dan uang untuk buah hati mereka, namun justru melupakan kebutuhan non fisik yang harus juga dipenuhi. Kekhawatiran mengenai kekurangan materi, tak jarang membuat para orangtua justru berlomba-loma siang malam bekerja untuk mencari nafkah agar bisa memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Bahkan sebagian besar mengorbankan waktu kebersamaan dengan pasangan dan anak-anaknya.
Para orangtua terkadang memberikan materi berlimpah, karena didera oleh rasa bersalah tidak mampu menjalin kebersamaan dengan anak-anaknya. Di sisi lain, mereka juga khawatir jika di kemudian hari anak-anak mereka kekurangan materi atau tidak dapat melanjutkan hidupnya. Situasi inilah yang justru menjadikan keadaan makin problematik dalam mendidik dan menerapan pola parenting pada anak-anaknya. Padahal, mengkompensasi kurangnya kebersamaan dengan memberikan uang, materi atau benda berlebihan pada anak justru hanya akan menghancurkan kehidupan mereka di kemudian hari. Mengapa demikian? Sebab pada pada dasarnya, anak-anak di usia perkembangannya membutuhkan pendampingan dan model parenting yang presisi dan relevan.
Erik Erikson, salah satu ilmuwan Psikologi terkenal dari German menyatakan bahwa setiap manusia, memiliki fase pertumbuhan dan pekembangan secara mental, sosial dan emosional. Misalnya pad anak usia 11-18 tahun yang beranjak remaja, mereka akan mengalami fase di mana terjadi kegamangan dan bingung terhadap apa yang dirasakannya. Tentu saja hal ini bukan semata karena pengaruh hormonal saja, namun juga berkaitan dengan aspek psikososial yang makin sulit untuk dijalani. Apalagi di tengah distraksi informasi dan masifnya peran media sosial saat ini. meskipun begitu, orangtua perlu membantu anak mereka untuk bertumbuh menjadi pribadi dengan mentalitas yang tangguh.
Bantu Anak Secukupnya
Setiap fase usia memiliki tugas perkembangan masing-masing. Oleh sebab itu para orangtua hendaknya menyadari peran strategis mereka masing-masing. Tak hanya itu, mereka juga harus menyadari bahwa setiap anak memiliki keunikan dan ciri khas tersendiri. Oleh sebab itu, orangtua hendaknya memiliki kesabaran dan pemahaman yang menyeluruh dalam membesarkan dan menerapkan pola parenting yang sesuai dengan kondisi zaman.
Orangtua yang berusaha membantu dan memberikan pemahaman pada anak-anak untuk mengatasi kesulitan mereka pada dasarnya merupakan tindakan yang baik. Namun, hal ini bukan berarti orangtua justru mengambil alih semua hal yang seharusnya dikerjakan oleh anak-anak di usianya. Ambil contoh misalnya mengerjakan tugas sekolah, merapikan baju sendiri, menata kamar dan mengerjakan tugas lain hendaknya harus dikerjakan oleh anak itu sendiri. Tindakan orangtua mengambil alih tugas anak justru akan menciptakan ketergantungan berlebih anak pada orangtua dan bisa jadi menjadikannya anak yang tidak mandiri di kemudian hari. Suka atau pun tidak, tanpa disadari justru para orangtua telah menjerumuskan anak ke dalam situasi yang buruk dan berdampak pada mentalitas maupun daya juang mereka di kemudian hari. Jadi yuks bantu anak secukupnya saja ya parents…! (hasis/alex)