Para penderita sindrom asperger dalam beberapa hal agak sulit dikenali. Bahkan tak jarang memiliki perilaku yang sama dengan orang normal biasa. Akan tetapi, penderita sindrom asperger ini sebenarnya dapat dikenali melalui beberapa ciri yang dapat diamati.
Dalam perspektif medis dan psikologis, sindrom asperger termasuk ke dalam katagori spektrum autis. Sindrom autis atau autism spectrum disorder merupakan jenis gangguan yang disebabkan oleh kemampuan fungsi saraf seseorang. Manifestasi dari sindrom asperger dapat ditandai melalui ketidakmampuan seseorang untuk berkomunikasi dan bersosialisasi dengan lingkungan sekitarnya. Proses interaksi yang dilakukan oleh orang-orang penderita sindrom aspeger biasanya masih terjadi namun kurang begitu optimal dan cenderung menarik diri.
Sampai saat ini penyebab utama terjadinya sindrom asperger disinyalir masih dipengaruhi oleh faktor genetik, yang diturunkan oleh orangtua kepada anaknya. Di sisi lain, kelainan pada saat janin juga ikut berperan pada terjadinya sindrom asperger. Dilansir dari psychologytoday, asperger sindrom biasanya dapat dikenali pada saat anak-anak sedang pada usia di bawah dua tahun. Kondisi dan gejalanya akan semakin terlihat hingga dewasa.
Secara umum terdapat tiga gejala sindrom asperger yang merupakan gejala umum. Adapun gejala tersebut diantaranya adalah gejala emosional, gejala perilaku dan gejala lain yang merupakan gejala ikutan. Pada gejala emosional, orang-orang penderita sindrom asperger akan mengalami kesulitan untuk memahami emosi orang di sekitarnya. Bahkan dalam beberapa kasus, mereka akan sulit untuk menafsirkan rasa sedih, rasa senang atau pun menderita. Dikarenakan kondisi ini, penderita sindrom asperger biasanya akan memiliki kualitas empati yang buruk secara emosional dan sosial. Penderita sindrom asperger juga akan mengalami kesulitan dalam mengungkapkan perasaan dan emosinya dalam bentuk kalimat atau pun kata-kata. Oleh karena itu, jangan heran jika penderita sindrom asperger akan terlihat datar ekspresinya, namun kemudian tiba-tiba meledak-ledak emosinya ketika terjadi sesuatu yang tidak sesuai dengan harapannya.
Sementara itu, gejala lain dari aspek komunikasi, para penderita sindrom asperger adalah mengalami kesulitan pada saat mengekspresikan perasaan atau emosi secara langsung. Mereka pun juga tidak mampu melakukan obrolan basa-basi yang yang cenderung santai atau ringan. Kepribadian kaku, dan sering mengucapkan kata-kata berulang adalah sebagian ciri khas gejala gangguan interaksi penderita sindrom aspeger. Bahkan penderita gangguan yang kadang hampir mirip dengan autism ini akan sulit menerima sinyal dalam bentuk nonverbal seperti gerakan tangan, isyarat mata, anggukan dan lainnya. Gejala lain yang tampak dan bisa kenali adalah kemampuan mereka untuk melakukan tugas-tugas perkembangan dalam kesehariannya cenderung kurang optimal. Beberapa contoh aktivitas seperti membuka amplop, mengikat tali sepatu, atau meletakkan barang dengan benar kurang dapat dilakukan dengan baik oleh penderita sindrom asperger ini.
Terapi Sindrom Asperger
Sampai saat ini, orang-orang yang terdiagnosis sindrom asperger dinyatakan tidak dapat disembuhkan, namun hanya dapat dikurangi atau pun diturunkan tingkat keparahannya. Para alhi bidang psikologi dan neurology percaya bahwa beberapa terapi dapat dilakukan, untuk mengurangi akibat negatif dari penderita sindrom asperger ini.
Berikut ini beberapa terapi yang dapat dilakukan ketika anak Anda terdiagnosis mengalami sindrom asperger:
- Terapi Wicara
Terapi ini dilakukan dengan latihan bicara dengan kombinasi aktivitas fisik sehari-hari. Melalui cara ini, diharapkan penderita sindrom asperger memiliki kemampuan komunikasi yang lebih baik.
- Modifikasi Perilaku
Bentuk terapi ini dilakukan melalui sejumlah intervensi tindakan yang dilakukan pada penderita sindrom asperger secara bertahap. Beberapa perilaku seperti bicara berdua, belajar mengungkapkan emosi dengan kalimat atau kata-kata adalah sebagian contoh modifikasi perilku.
- Terapi Sosioemosi
Bentuk terapi ini dilakukan melalui aktivitas yang mendorong penderita sindrom asperger dapat malakukan interaksi sosial secara bertahap dengan lingkungan di sekitarnya. Melakukan bakti sosial, project group, ibadah berasama adalah beberapa contoh dari bentuk terapi sosioemosi pada penderita sindrom asperger. Terlepas dari pengaruh sindrom asperger pada kehidupan seseorang, pada kenyataaanya, melalui terapi yang berkelanjutan penderita sindrom ini dapat hidup secara normal. Bahkan beberapa tokoh terkemuka seperti Bill Gates, Steve Jobs, Albert Einstein dan Elon Musk adalah sekian contoh penderita sindrom asperger dalam gradasi tertentu yang dapat sukses menjalani hidupnya. (*)
