Di tengah hiruk-pikuk zaman yang sepertinya berputar dengan cepat, para orangtua tak jarang mudah marah dan temperamental. Tanpa disadari akibat tekanan kehidupan, ekonomi dan pekerjaan telah berdampak pada perilaku reaktif dan mudah marah. Alih-alih berdiskusi dengan anaknya terkait masalah yang dihadapi, mayoritas orangtua justru marah-marah untuk meluapkan keksesalannya.
Sebuah penelitian yang dilakukan ilmuwan Psikologi perkembangan, Cindy Hazen dan Philip Shaver, menyatakan bahwa para orangtua yang melakukan model parenting yang tepat, akan meningkatkan keterlekatan dengan sang buah hati. Bahkan keterlekatan tersebut akan semakin bertambah ketika anak menjelang dewasa nantinya.
Kondisi tersebut tentu saja akan menjadi bagian penting dalam fase anak, untuk tumbuh dan berkembang sesuai dengan usia dan tugas perkembangannya. Berbagai fakta di lapangan menyatakan bahwa anak-anak yang dibesarkan oleh orangtua yang kurang peduli dan temperamental, akan menyebabkan sang anak menjadi pribadi yang agresif di kemudian hari. Hal ini dikarenakan, pada saat tumbuh kembangnya anak-anak cenderung menyerap seluruh informasi di sekitarnya dengan mudah. Tentu saja, orangtua merupakan lingkungan terdekat bagi anak. Pola asuh yang cenderung sarkastik dan tidak mengedepankan diskusi serta persuasi telah menyebabkan anak menjadi pribadi yang rapuh dan enggan melakukan sesuatu karena takut disalahkan oleh orangtuanya. Belum lagi kekerasan fisik dan verbal yang dilakukan secara sadar atau pun tidak.
Sementara itu, orangtua yang temperamental juga akan memberikan luka batin dan trauma bagi anak-anak yang memiliki perasaan lebih halus dan peka. Meskipun mereka belum mampu mengucapkan dan mengartikulasikan semuanya dengan lengkap, namun kognitif dan memorinya akan menyimpan seluruh kejadian traumatis yang telah dialami. Bayangkan saja misalnya, sang kakak usia 7 tahun, menjatuhkan minuman di meja hingga gelasnya pecah, lalu kemudian Anda sebagai orang tua langsung memukul dan memarahinya habis-habisan tanpa menanyakan apa dan kenapa penyebabnya. Tentu saja, anak yang masih usia 7 tahun hanya menunduk atau bahkan menangis. Belum lagi jika kondisi tersebut di lihat oleh adiknya yang masih berusia balita, rasa trauma yang dialami akan semakin dalam serta tersimpan di alam bawah sadarnya. Sungguh menyedihkan.!
Anak Menjadi Menutup Diri
Pernahkah Anda menyadari bahwa orangtua yang gagal mengasuh anaknya dan cenderung mengedepankan kekerasan baik verbal maupun fisik akan menjadikan kepribadian anak yang semakin tertutup. Bahkan dalam jangka panjang anak-anak yang diasuh oleh orantua dengan temperamen yang tidak stabil, bisa menjadikan anak tersebut semakin agresif dan beringas di kemudian hari.
Alam bawah sadar anak secara otomatis akan merekam seluruh perlakuan orangtua kepadanya. Kondisi ini jika terus dilakukan dengan intensitas yang tinggi, akan berdampak pada luka bathin dan jiwa sang anak. Selain menutup diri, anak-anak juga akan kurang memiliki kepedulian terhadap lingkungan sekitarnya. Karena itu, tak heran jika beberapa waktu belakangan ini jumlah kasus bunuh diri pada anak mengalami peningkatan cukup signifikan. Salah satu penyebabnya bisa jadi karena depresi dan pola parenting yang tidak tepat.
Sesunggunya tidak ada resep baku atau pun buku panduan untuk mengasuh dan mendidik anak dengan sempurna. Namun para ahli psikologi perkembangan menyatakan bahwa pola asuh otoriter demokratis yang mengedepankan persuasi justru lebih disarankan. Melalui pola asuh ini, diharapkan sang anak dapat tumbuh menjadi pribadi yang lebih adaptif, aktif dan dinamis serta bertumbuh secara emosi dan sosial. Para orantua hendaknya juga berusaha mendidik dan mengasuh anak sesuai dengan perkembangan zaman, agar lebih relevan dan anak-anak tidak menjadi resisten denga segala hal yang diterapkan oleh orangtuanya. (has)
