Seorang ibu pernah mengeluhkan betapa anak laki-lakinya yang sudah berusia 17 tahun kurang dapat diajak berkomunikasi. Selain itu, sang ibu sering kewalahan karena ketika sang anak diajak bicara sering kurang merespon dengan baik. Meski awalnya tidak terlalu dirisaukan, namun setelah prestasi sekolah sang buah hati makin menurun dan dijauhi oleh banyak temannya di sekolah maupun dilingkungan rumah barulah sang ibu menyadari bahwa ada yang salah dengan anaknya. Setelah diusut dan dilakukan konsultasi dengan psikolog, ternyata sang anak mengalami gangguan fungsi pengenalan.
Masalah di atas adalah sejumlah fenomena yang timbul pada masyarakat kita akhir-akhir ini. Terlebih pada keluarga di mana kedua orangtuanya sibuk bekerja dan komunikasi anak sangat minim. Sekadar menggunakan gawai pintar atau telepon seluler. Kondisi ini jika dibiarkan terlalu lama akan semakin berlarut-larut dan membuat anak-anak semakin kehilangan kemampuan fungsi pengenalan pada lingkungan sekitarnya.
Menurut Kartini Kartono, gangguan pengenalan sebenarnya erat kaitannya dengan peran lingkungan terkecil yaitu keluarga dalam membentuk kepribadian dan perilaku anak-anaknya. Gangguan fungsi pengenalan sendiri disebabkan oleh fungsi gnostis atau fungsi pengenalan yang tidak optimal pada seseorang, akibatnya beberapa gejala seperti halusinasi, ilusi dan delusi sering terjadi. Selain itu, gangguan fungsi pengenalan memiliki beberapa gejala misalnya kesulitan dalam merespon pada saat berkomunikasi, kurang mampu beradaptasi dengan lingkungan sekitar baik keluarga, saodara, kerabat atau pun teman terdekat. Para penderita gangguan fungsi pengenalan juga memiliki kecenderungan lebih reaktif saat menyelesaikan masalah. Karenanya, para penderita gangguan fungsi pengenalan ini belum dapat menyelesaikan permasalahan sesuai tahap perkembangan usianya. Maka jangan heran kalau anak usia 17 tahun kadang masih sering merengek atau bingung terkena masalah sepele.
Untuk mengatasi gangguan fungsi pengenalan beberapa upaya dapat dilakukan oleh para orangtua adalah melakukan komunikasi secara langsung, mendalam dan berkualitas dengan anak. Lebih dari itu, mendorong anak untuk berusaha mencari solusi permasalahan tanpa harus merugikan orang lain dan diri sendiri adalah salah satu upaya yang patut diterapkan kepada anak. Upaya lain yang dapat dilakukan adalah dengan membangun rasa percaya diri anak melalui peran keterlibatan anak dalam sejumlah kegiatan sosial. Nah….jika anak Anda sudah mulai mengalami ilusi, halusinasi terlalu sering misalnya pada saat malam-malam menganggap kertas putih digantung di pohon sebagai hantu, melihat orang tua duduk di kegelapan sebagai penampakan dunia lain, sudah saatnya orangtua membawa anaknya untuk melakukan konseling dan psikoterapi.