Akhir-akhir ini jumlah anak yang mengalami gangguan psikologis semakin meningkat. Seperti dilansir dari layanan Sejiwa, sejak pandemi Covid-19 melanda di Indonesia tercatat jumlah gangguan psikologis semakin meningkat di masyarakat. Adapun ganggun tersebut meliputi kecemasan, depresi, kesulitan keuangan, masalah keluarga, masalah dengan lingkungan sosial, dan keluhan fisik. Tentu saja kondisi ini turut berpengaruh pada para orangtua dalam mendidik anaknya. Tak jarang karena orangtua mengalami stress atau kecemasan berlebihan kemudian melampiaskan kepada anak-anaknya.
Tekanan ekonomi dan pendapatan yang tidak menentu, karena dampak pandemi Covid-19, konon menjadi salah satu penyebab orangtua akhirnya melampiaskan kecemasannya kepada anak. Marah-marah kepada anak karena hal-hal sepele, dan terkadang melakukan kekerasan fisik tanpa mereka sadari, justru akan berdampak pada psikoemosional anak. Bahkan dalam jangka panjang, jika anak-anak terus mendapatkan perlakukan kekerasan akan berakibat pada pembentukan kepribadiannya. Anak-anak yang lahir dari keluarga bermasalah, akan sangat berbeda dengan anak-anak yang lahir dari keluarga yang lengkap dan bahagia. Tak hanya itu, anak-anak yang lahir dan dibesarkan dengan kekerasan juga akan menjadi pribadi yang reaktif, kasar dan kurang toleran.
Menurut Jung, Ilmuwan dalam bidang psikologi perkembangan, tahapan psikologi perkembangan anak dibedakan menjadi tiga yaitu anarkis, monarkis dan dualitistik. Pada fase anarkis, yaitu pada kelompok usia 0-6 tahun anak-anak akan cenderung melakukan hal-hal sesuka hari mereka. Selain itu terkadang anak-anak terkesan sporadis dalam bertindak. Sementara itu, pada fase monarkis yaitu pada usia 6-8 tahun, seorang anak akan mulai memiliki ego dan menggunakan potensi verbal dan logikanya. Pada tahap ini anak-anak sudah mulai memahami segala sesuatu namun tetap harus diberikan pengertian oleh orangtuanya. Sedangkan tahapan yang ketiga adalah tahap dualistik yaitu pada kelompok usia 8-12 tahun. Pada tahapan ini, anak-anak sudah menyadari eksistensinya dan mulai memiliki ego secara individualis.
Nah, berdasarkan fase perkembangan tersebut orangtua seyogyanya menyadari bahwa setiap anak memang membutuhkan perhatian yang berbeda. Bagaimana pun keluarga adalah support system utama bagi buah hati kita. Pola asuh yang tidak kontekstual dengan zaman juga akan menyiksa psikis dan emosional anak kita. Karenanya, usahakan untuk belajar memahami anak dan menyesuaikan kebutuhannya. Ibarat kertas putih yang kosong, dengan apa dan bagaimana kita menulisnya, semua tergantung kita. Dan begitulah kita para orangtua dalam membentuk kepribadian anak-anak kita.