Membiasakan disiplin pada anak bukanlah perkara mudah. Apalagi di era digital sekarang, bagi sebagian keluarga, teman utama anak adalah justru teknologi, game dan telpon pintar, bukan orangtua mereka sendiri. Kedisiplinan anak merupakan hal yang sangat esensial karena akan membentuk karakter dan perilaku mereka di kemudian hari.
Menurut Hurlock, salah satu ilmuwan psikologi perkembangan menyatakan, setidaknya terdapat tige metode parenting yang dapat diterapkan kepada anak. Bentuk kedisiplinan tersebut adalah disiplin otoriter, disiplin permisif, dan disiplin demokratis. Ketiga metode penerapan disiplin pada anak ini memiliki karakteristik dan keunikan masing-masing. Meskipun tidak semua bisa ditetapkan secara absolut, namun sejumlah ilmuwan psikologi perkembangan menyatakan ketiga bentuk penerapan disiplin tersebut masih sangat relevan hingga kini.
Bentuk penerapan disiplin otoriter, dapat diterapkan pada situasi dimana anak-anak mudah sekali berubah, dan terbawa situasi. Bentuk disiplin parenting ini, terkadang memang terkesan sedikit keras karena memaksa anak-anak untuk menjalankan peraturan dengan jelas. Artinya, setiap anak melakukan kesalahan, maka orangtua harus memiliki ketegaan untuk memberikan hukuman. Misalnya, saat anak bangun kesiangan maka konsekuensinya adalah akan ditegur para guru di sekolah. Tentu saja bentuk sanksi yang diterima adalah sanksi sosial bagi anak-anak.
Sementara itu, bentuk lain dari pola parenting kedua adlah disiplin permisif. Pola penerapan disiplin permisif ini, diterapkan dengan tidak memberikan hukuman kepada anak-anak, ketika mereka berbuat kesalahan. Anak-anak dibiarkan mencari dan belajar sendiri dari kesalahan yang telah mereka lakukan. Meskipun cara ini terkesan kurang baik, namun pada beberapa praktek dan pelaksanaanya justru akan memacu kecerdasan kreativitas anak. Terutama yang berkaitan dengan cara-cara tepat mencari solusi atas masalah yang mereka hadapi. Jadi kalaupun anak-anak salah, orangtua tidak disarankan terlalu ikut campur dalam masalahnya terlalu dalam.
Cara mendisiplinkan ketiga adalah cara disiplin demokratis. Bentuk pola penerapan untuk mendisiplinkan anak ini dilakukan dengan menggabungan konsep hukuman dan penghargaan. Para orangtua akan memberikan penghargaan saat anak mereka menuruti aturan yang diterapkan. Misalnya saat anak dapat meletakan sepatu pada tempatnya, bangun tepat waktu dan disiplin mengatur jadwal les, kemudian para orangtua akan memberikan penghargaan berupan pujian dan reward, serta secara perlahan akan menguranginya. Sementara itu, saat mereka melanggar aturan, para orangtua dapat mengurangi uang jajan mereka selama beberapa hari.
Tips Membangun Disiplin Anak
1. Orangtua Adalah Contoh Utama
Ajarkan anak dengan melakukan, dan orangtua adalah contoh yang paling efektif. Jadi jika para orangtua menyuruh anaknya, tapi dia tidak melakukan maka jangan harap anak-anak akan menirunya.
2. Utamakan Menghargai Daripada Menghukum
Usahakan tetap menggunakan penghargaan daripada menghukum atas kesalahan yang telah anak lakukan. Lakukan diskusi dengan anak-anak yang berbuat salah, dengan menjelaskan akibatnya atau dampak yang telah mereka dapat jika mereka berbuat salah. Sebab dengan menghukum, alih-alih anak menjadi lebih baik mereka justru akan menjadi pribadi yang kurang bisa menerima kegagalan dan cenderung lari dari masalah.
3. Konsisten Melakukan
Konsistensi melakukan pola asuh dengan mengembangkan kemampuan kognitif, adalah cara yang paling efektif. Cara ini dapat ditempuh dengan melakukan diskusi dengan anak, tidak menghakimi, menggabungkan pola asuh otoriter dan demokratis, melatih anak untuk berpendapat dan mengungkapkan perasaanya hanyalah sebagian kecil cara yang dapat diterapkan.
4. Ajarkan Anak Menghargai Perbedaan
Anak-anak kadang memiliki pemikiran mereka sendiri. Tak jarang, mereka juga punya pendapat yang berbeda dengan orangtuanya, karena cara menyerap informasi mereka belum sebaik orangtuanya. Oleh sebab itu, mengajarkan tiga kata seperti “maaf” “terimakasih” dan “tolong” adalah kata-kata ampuh yang dapat menjadikan anak tumbuh sebagai pribadi yang asertif. Cara ini diharapkan dapat menjadikan anak dapat beradaptasi dengan perbedaan. (has/ayu)